Kamis, 06 September 2012

Puluhan Hektare Sawah di Bantul Gagal Panen karena Lahan Terendam Air






Puluhan hektare lahan pertanian yang terkena dampak luapan sungai Opak diantaranya di Dusun Baros, Karang dan Muneng, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek. Sedangkan di Kecamatan Sanden, air menggenang di lahan pertanian Dusun Soge, Sanden, Tegal dan Garjo, Desa Srigading.

"Di sini (kecamatan Kretek) saja lebih dari 30 hektare yang terendam. Di Sanden lebih luas lagi", kata Sukijo (54) saat ditemui dilahan pertanian dusun Baros Kamis (6/09/2012).

Luapan di sebagian lahan mencapai yang ketinggian paha orang dewasa. Bawang merah, mentimun, jagung, ubi jalar, kacang dan lombok, terancam membusuk. Petani diperkiran mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

"Kalau bawang merah sebagian ada yang bisa diselamatkan. Tapi harganya pasti jatuh dan bobotnya tidak maksimal karena sebenarnya belum masanya panen. Tapi yang baru saja ditanam ya ludes, pasti membusuk.
Apalagi mentimun dan lombok yang tidak tahan air, yang nanam hanya bisa mengelus dada," ujar Sukijo.

Menurut sejumlah petani, muara sungai Opak mulai tertutup sejak tiga hari lalu dan genangan semakin meluas sejak Rabu (05/09/2012) sore. Tertutupnya mulut muara diakibatkan debit air sungai menurun, sehingga permukaan air laut lebih tinggi.

"Anginnya kan cukup kencang dan membuat pasir beterbangan. Jadi mulut muara itu tertimbun pasir pantai ditambah lagi pasir laut yang terbawa gelombang. Air sungai yang tak dapat mengalir ke laut akhirnya menggenang ke lahan," terang Iswantoro (27) petani dusun Nguneng yang lahan bawang merahnya ludes terendam.

Bagi petani di dua kecamatan yang berada disisi utara aliran sungai Opak, kejadian seperti ini selalu terjadi setiap musim kemarau.

"Mau bagaimana lagi. Kita tak bisa melawan alam. Pemerintah juga tak pernah berupaya mengantisipasi dengan mengeruknya," pungkas Iswantoro pasrah

Puluhan hektare lahan pertanian yang terkena dampak luapan sungai Opak diantaranya di Dusun Baros, Karang dan Muneng, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek. Sedangkan di Kecamatan Sanden, air menggenang di lahan pertanian Dusun Soge, Sanden, Tegal dan Garjo, Desa Srigading.

"Di sini (kecamatan Kretek) saja lebih dari 30 hektare yang terendam. Di Sanden lebih luas lagi", kata Sukijo (54) saat ditemui dilahan pertanian dusun Baros Kamis (6/09/2012).

Luapan di sebagian lahan mencapai yang ketinggian paha orang dewasa. Bawang merah, mentimun, jagung, ubi jalar, kacang dan lombok, terancam membusuk. Petani diperkiran mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

"Kalau bawang merah sebagian ada yang bisa diselamatkan. Tapi harganya pasti jatuh dan bobotnya tidak maksimal karena sebenarnya belum masanya panen. Tapi yang baru saja ditanam ya ludes, pasti membusuk.
Apalagi mentimun dan lombok yang tidak tahan air, yang nanam hanya bisa mengelus dada," ujar Sukijo.

Menurut sejumlah petani, muara sungai Opak mulai tertutup sejak tiga hari lalu dan genangan semakin meluas sejak Rabu (05/09/2012) sore. Tertutupnya mulut muara diakibatkan debit air sungai menurun, sehingga permukaan air laut lebih tinggi.

"Anginnya kan cukup kencang dan membuat pasir beterbangan. Jadi mulut muara itu tertimbun pasir pantai ditambah lagi pasir laut yang terbawa gelombang. Air sungai yang tak dapat mengalir ke laut akhirnya menggenang ke lahan," terang Iswantoro (27) petani dusun Nguneng yang lahan bawang merahnya ludes terendam.

Bagi petani di dua kecamatan yang berada disisi utara aliran sungai Opak, kejadian seperti ini selalu terjadi setiap musim kemarau.

"Mau bagaimana lagi. Kita tak bisa melawan alam. Pemerintah juga tak pernah berupaya mengantisipasi dengan mengeruknya," pungkas Iswantoro pasrah.

"Anginnya kan cukup kencang dan membuat pasir beterbangan. Jadi mulut muara itu tertimbun pasir pantai ditambah lagi pasir laut yang terbawa gelombang. Air sungai yang tak dapat mengalir ke laut akhirnya menggenang ke lahan," terang Iswantoro (27) petani dusun Nguneng yang lahan bawang merahnya ludes terendam.

Bagi petani di dua kecamatan yang berada disisi utara aliran sungai Opak, kejadian seperti ini selalu terjadi setiap musim kemarau.

"Mau bagaimana lagi. Kita tak bisa melawan alam. Pemerintah juga tak pernah berupaya mengantisipasi dengan mengeruknya," pungkas Iswantoro pasrah


M Afifi - detikNews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar